Siswa MIN 1 Kota Malang Terbitkan Buku Pentigraf, Bu Murita Kembali Dorong Literasi dari Kelas

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
X

Kota Malang, M1NEWS — Semangat literasi kembali menggema di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kota Malang. Guru sekaligus penggerak literasi, Murita Herliningtyas, S.Pd., M.Pd., kembali mengajak siswa-siswinya menerbitkan buku kumpulan pentigraf sebagai wujud nyata pembelajaran menulis yang berkelanjutan.

Pada momen penuh kebanggaan tersebut, Murita secara simbolis menyerahkan buku karya siswa kepada Kepala MIN 1 Kota Malang, Hj. Siti Aisah, S.Ag., M.Pd. Penyerahan ini menjadi penanda bahwa karya literasi siswa tidak berhenti pada lomba, tetapi berlanjut hingga menjadi buku yang dapat dibaca dan diapresiasi lebih luas.

Murita menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan karya siswa kelas VI E tahun pelajaran 2025/2026. Ia mengungkapkan, ide penerbitan buku berangkat dari kegiatan lomba pentigraf dalam rangka Bulan Bahasa 2025 yang mengusung tema “Merawat Alam Melalui Literasi”.

“Alhamdulillah, buku ini adalah karya kelas 6 E tahun 2025/2026. Latar belakangnya karena di madrasah ada lomba pentigraf saat Bulan Bahasa,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam Semarak Lomba Bulan Bahasa 2025, MIN 1 Kota Malang menggelar berbagai kompetisi literasi yang diikuti siswa kelas I hingga VI. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan ide sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui tulisan.

Dari lomba tersebut, salah satu karya berhasil meraih juara 3. Namun, Murita melihat potensi lebih besar dari karya-karya lain yang belum terakomodasi.

“Alhamdulillah setelah diseleksi, ada satu anak yang meraih juara 3. Lalu saya berpikir, naskah yang lain mau diapakan. Akhirnya saya berdiskusi dengan wali murid untuk membantu dalam proses pencetakan. Anak-anak kemudian saya minta merevisi tulisan, memperbaiki tanda baca, lalu saya edit,” jelasnya saat ditemui tim humas, Rabu (11/3/2026).

Proses penyusunan buku dilakukan secara intensif. Mengingat naskah awal ditulis manual saat lomba, Murita menargetkan pengetikan ulang dalam waktu satu minggu.

“Alhamdulillah wali murid mendukung, termasuk dalam pembiayaan. Kami targetkan seminggu untuk mengetik ulang, karena sebelumnya anak-anak menulis manual,” imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan pentigraf yang diterapkan tidak sepenuhnya kaku mengikuti teori, melainkan lebih menekankan pada keberanian siswa dalam menulis.

“Memang pentigraf ini tidak murni seperti aturan. Saya hanya menekankan tiga paragraf saja, yang penting anak-anak mau menulis,” tuturnya.

Menariknya, penentuan judul buku dilakukan melalui diskusi bersama siswa. Dari proses tersebut lahirlah judul unik yang merepresentasikan identitas kelas mereka.

“Judulnya kami diskusikan bersama anak-anak. Karena kelas kami berada di ujung, akhirnya dipilih judul ‘Secuil Kisah Kelas Paling Ujung’,” tandasnya.

Tidak hanya membimbing siswa, Murita juga aktif menorehkan prestasi dalam dunia kepenulisan. Pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, ia mengikuti Lomba Penulisan Cerpen Berlatar Luar Negeri yang diikuti sekitar 450 peserta. Dari jumlah tersebut, hanya 50 naskah terpilih untuk dibukukan dalam sebuah antologi.

Cerpen karya Murita berjudul “Langit Sore di Orchard Road” berhasil masuk dalam buku antologi berjudul “Suara Terlelap dalam Dekapan Malam”. Buku tersebut juga turut diserahkan kepada MIN 1 Kota Malang sebagai bagian dari kontribusinya dalam memperkuat budaya literasi di madrasah. (volkdei/qonita)

Scroll to Top